Jenis Pelecehan Seksual Sesuai Undang-Undang di Indonesia

gambar tersebut menyebutkan tentang jenis pelanggaran pelecehan seksual gambar tersebut menyebutkan tentang jenis pelanggaran pelecehan seksual

Jenis Pelecehan Seksual Sesuai Undang-Undang di Indonesia

Tercatat, ada berbagai jenis tindak pelecehan seksual sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku di Indonesia. Sebab, setiap tindak pelecehan maupun kekerasan seksual ini memiliki masa hukuman pidana dan dendam yang berbeda-beda.

Sebagai masyarakat yang awam tentang hukum, tentu Anda wajib paham tentang apa saja tindakan yang masuk dalam kategori kekerasan seksual. Pasalnya, tindak seksualitas tidak hanya berupa kontak fisik saja. Melainkan, kekerasan seksual juga dapat berupa ucapan dari pelaku.

Jadi, Anda harus bisa membedakan antara tindak kekerasan seksual verbal dengan non-verbal. Dan masa hukuman antara dua tindak kekerasan seksual tersebut tentu saja berbeda. Sebab, Undang-Undang hukum pelecehan seksual lebih mengatur tentang kekerasan secara verbal.

Namun tidak menutup kemungkinan juga berlaku untuk kekerasan seksual secara non-verbal. Asalkan, korban dapat membuktikan tindak kekerasan non-verbal yang dilakukan oleh terduga pelaku.

Jika korban dapat membuktikan, maka pelaku dapat dijerat dengan pasal pelecehan dan kekerasan seksual. Maka dari itu, ketahui apa saja jenis tindak perilaku seksual sesuai dengan hukum yang berlaku di Indonesia.

Jenis-Jenis Perilaku Pelecehan Seksual Sesuai dengan Undang-Undang yang Berlaku di Indonesia

Memang, tidak semua tindak kekerasan seksual dijerat dengan hukuman maksimal. Sebab, ada beberapa faktor yang membuat hukuman menjadi ringan atau berat. Salah satunya adalah motif pelaku melakukan tindak pelecehan disertai dengan kekerasan seksual.

Lalu, apakah pelaku pernah mendekam di penjara untuk kasus yang sama. Selain itu, jumlah korban juga menjadi salah satu pertimbangan masa hukuman pelaku pelecehan dan kekerasan seksual.

Untuk itu, ini dia jenis pelecehan seksual sesuai dengan UU yang berlaku di Indonesia. Diantaranya adalah sebagai berikut ini :

  1. Pelecehan Secara Verbal

Jenis pelecehan yang pertama adalah secara verbal. Artinya, pelaku memegang anggota bagian tubuh korban. Pelecehan secara verbal ini memang menjadi salah satu tindakan dengan masa hukuman paling lama.

Sebab, pelecehan secara verbal dapat membuat korban merasa trauma. Ada banyak contoh kasus pelecehan seksual yang berdampak pada psikologis korban hingga menyebabkan depresi.

  1. Penyuapan Seksual

Jenis pelecehan selanjutnya adalah penyuapan seksual. Penyuapan seksual ini masuk dalam kategori verbal maupun non-verbal. Pasalnya, pelaku pelecehan seksual akan menawarkan harta berupa uang tunai atau peralatan elektronik agar korban mau diajak berhubungan intim.

Untuk itu, penyuapan seksual juga dapat dikategorikan sebagai tindak pelecehan. Anda dapat melaporkan tindak pelecehan tersebut melalui pihak yang berwajib.

  1. Pelecehan Secara Non-Verbal

Dan jenis pelecehan yang terakhir adalah non-verbal. Artinya, seorang pelaku mengucapkan kata-kata yang tidak senonoh melalui pengucapan atau melalui media sosial.

Apabila terbukti melakukan pelecehan secara non-verbal, maka pelaku tidak hanya dijerat pasal UU tentang pelecehan dan kekerasan seksual saja. Melainkan dapat dijerat dengan pasal UU ITE jika menyebarkan chat mesum melalui media sosial.

Pembuktian Kasus Pelecehan Seksual di Persidangan

Untuk membuktikan kasus pelecehan atau kekerasan seksual di persidangan memang cukup sulit. Pasalnya, beberapa contoh kasus tidak disertai dengan keterangan saksi-saksi di tempat kejadian perkara.

Selain itu, rasa trauma hingga depresi korban tentu menjadi tantangan tersendiri dalam mengungkap pelecehan seksual. Sehingga, keterangan dari korban tentu mengalami keterbatasan.

Selain itu, bukti-bukti seseorang melakukan tindak pelecehan atau kekerasan seksual ini cukup sulit untuk digali. Untuk itu, pihak berwajib memiliki metode khusus untuk membuktikan tindak pelecehan serta kekerasan seksual di persidangan.

Langkah pertama, pihak kepolisian akan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Pihak kepolisian akan melakukan pengecekan melalui CCTV di sekitar tempat kejadian perkara. Tujuannya untuk mengetahui petunjuk dari pelaku yang diduga melakukan tindak kekerasan seksual.

Langkah kedua, pihak kepolisian akan mencari identitas seseorang yang diduga menjadi pelaku pelecehan seksual. Setelah itu, pihak kepolisian akan melakukan penangkapan terhadap pelaku. Lalu, polisi akan melengkapi bukti dan fakta untuk persidangan.

Langkah ketiga, setelah semua berkas dinyatakan lengkap maka hakim akan menggelar persidangan. Hakim berpedoman pada hukum pidana bagi pelaku pelecehan seksual sesuai dengan Undang-Undang. Setelah itu, terdakwa harus menjalankan hukuman sesuai dengan putusan pengadilan.

Kasus pelecehan serta kekerasan seksual di Indonesia ini masih tinggi. Ada berbagai cara untuk mencegah terjadinya kekerasan seksual. Sebagai masyarakat awam, Anda harus paham apa saja jenis pelecehan seksual yang diatur dalam Undang-Undang di Indonesia.